KANKER LARING (PITA SUARA)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kanker di laring hampir selalu merupakan karsinoma sel skuamosa. Ia kanker yang biasa terjadi pada perokok. Kanker laring bukan satu, tetapi merupakan beberapa penyakit, tergantung atas lokasinya. Kanker pita suara sejati, berbeda dengan karsinoma supraglotis dan subglotis, biasanya ditemukan dini karena dampaknya pada suara. Ada banyak penyebab penyakit kanker laring. Selain itu adapula gejela-gejala yang timbul, diagnosis, cara pencegahan dan pengobatan pada penyakit kanker laring.

1.2 Permasalahan

Di Amerika Serikat setiap tahun dilaporkan adanya 10.000 kasus baru. Bila suara serak tak segera hilang, dan saat “vonis” dokter menyatakan harus di operasi,lakukanlah segera. Keganasan pada pita suara pada stadium awal, dan segera di lakukan tindakan operasi , tak berarti kehidupan duniawi segera di tinggalkan. Kendala yang menyebabkan seseorang enggan di operasi, ketakutan tak bisa bicara lagi. Pita suara yang hilang digantikan saluran makanan sebagai sumber bunyi. Berlatih bersama seminggu sekali di Departemen Rehabilitasi Medik, tak hanya kemampuan bicara kembali yang diperoleh, bernyanyipun bisa.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Laring adalah kotak kaku yang tidak dapat meregang, laring mengandung ruang sempit antara pita suara (glottis) dimana udara harus melewati ruangan ini. Carcinoma laring adalah keganasan pada laring. Kanker Laring (pita suara) adalah keganasan pada pita suara, kotak suara (laring) atau daerah lainnya di tenggorokan. Laring atau organ suara adalah struktur epitel kartilago yang menghubungkan faring dan trachea. Fungus utama laring adalah untuk memungkinkan terjadinya vokalisasi. Laring juga melindungi jalan nafas bawah dari obstruksi dari benda asing dan memudahkan batuk. Laring sering disebut sebagai kotak suara.

Laring terdiri atas :

  1. Epiglotis: ostium katup kartilago yang menutupi ostium ke arah laring selama menelan
  2. Glotis: ostium antara pita suara dan laring
  3. Kartilago tiroid: kartilago terbesar pada trachea, sebagian dari kartilago membentuk jakun (Adam’s apple)
  4. Kartilago krikoid: satu-satunya cincin kartilago yang komplit dalam laring (terletak dibawah kartilago roid)
  5. Kartilago critenoid: digunakan dalam gerakan pita suara dengan kartilago tiroid
  6. Pita suara: ligamen yang terkontrol oleh gesekan otot yang menghasilkan bunyi suara, pita suara melekat pada lumen laring.

BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Deskripsi Penyakit

Penyakit Kanker Laring adalah keganasan pada pita suara, kotak suara (laring) atau daerah lainnya di tenggorokan. Kanker di laring hampir selalu merupakan karsinoma sel skuamosa. Ia kanker yang biasa terjadi pada perokok. Di Amerika Serikat setiap tahun dilaporkan adanya 10.000 kasus baru.kanker laring bukan satu, tetapi merupakan beberapa penyakit, tergantung atas lokasinya. Kanker pita suara sejati, berbeda dengan karsinoma supraglotis dan subglotis, biasanya ditemukan dini karena dampaknya pada suara. Bila kanker pita suara terdiagnosis dini, maka dapat dicapai angka penyembuhan 98% dengan operasi singkat, tanpa keperluan trakeostomi permanen atau kehilangan suara. Sebaliknya pada kasus lanjut, mungkin memerlukan terapi yang lama, kehilangan laring dan kadang-kadang reseksi bedah yang mencakup faring atau laher. Kanker supraglotis mula-mula timbul sebagai kesulitan menelan; serak merupakan tanda lanjut. Kanker subglotis dapat mengobstruksi saluran pernapasan sebelum menyebabkan serak. Karsinoma epitel di tempat manapun di laring dapat berulserasi, dan ulkus ini dapat terinfeksi yang menyebabkan nyeri. Serak dan sakit tenggorokan tidak boleh disebut sebagai laryngitis hanya karena ia berespon dengan antibiotika.

Pada orang dewasa perokok, serak yang menetap lebih dari 6 minggu harus dianggap kanker pita suara, sampai terbukti lain. Kanker kecil tampak sama seperti leukoplakia. Kanker yang agak besar tampak seperti laryngitis kronika, leukoplakia dan fiksasi pita suara. Kanker yang sangat besar jelas tampak sebagai kanker, ia berulserasi, fungasi dan menginyasi struktur sekitarnya.

Metastasis ke leher dari kanker pita suara dini jarang terjadi. Tetapi kanker yang cukup besar untuk memfikasi pita suara menyebar ke nodus limfatikus sevikalis pada sejumlah besar kasus.

3.2 Faktor Penyebab Sakit

Penyebab kanker laring (pita suara) biasanya lebih banyak ditemukan pada pria dan berhubungan dengan rokok serta pemakaian alkohol.

Etiologi CA laring:

  • Tidak diketahui
  • Berhubungan dengan karsinogen: tembakau, alcohol, polusi industri
  • Laringitis kronis
  • Penggunaan suara berlebihan herediter
  • Herediter
  • Laki-laki lebih banyak dari pada wanita
  • 50-70 tahun
  • squamous cell carsinoma

Adapun penyebab lain, penyebab kanker biasanya tidak dapat diketahui secara pasti karena penyebab kanker dapat merupakan gabungan dari sekumpulan faktor, genetik dan lingkungan.

Namun ada beberapa faktor yang diduga meningkatkan resiko terjadinya kanker, sebagai berikut :

  • Faktor keturunan

Faktor genetik menyebabkan beberapa keluarga memiliki resiko lebih tinggi untuk menderita kanker tertentu bila dibandingkan dengan keluarga lainnya. Jenis kanker yang cenderung diturunkan dalam keluarga adalah kanker payudara, kanker indung telur, kanker kulit dan kanker usus besar. Sebagai contoh, risiko wanita untuk menderita kanker meningkat 1,5 s/d 3 kali jika ibunya atau saudara perempuannya menderita kanker payudara.

  • Faktor Lingkungan
    • Merokok sigaret meningkatkan resiko terjadinya kanker paru – paru, mulut, laring (pita suara), dan kandung kemih.
    • Sinar Ultraviolet dari matahari.
    • Radiasi ionisasi (yang merupakan karsinogenik) digunakan dalam sinar rontgen dihasilkan dari pembangkit listrik tenaga nuklir dan ledakan bom atom yang bisa menjangkau jarak yang sangat jauh. Contoh, orang yang selamat dari bom atom di Hiroshima dan Nagasaki pada Perang Dunia II, berisiko tinggi menderita kanker sel darah, seperti Leukemia.
  • Faktor Makanan yang mengandung bahan kimia.

Makanan juga dapat menjadi faktor risiko penting lain penyebab kanker, terutama kanker pada saluran pencernaan. Contoh jenis makanan yang dapat menyebabkan kanker adalah :

  • Makanan yang diasap dan diasamkan (dalam bentuk acar) meningkatkan resiko terjadinya kanker lambung.
  • Minuman yang mengandung alkohol menyebabkan berisiko lebih tinggi terhadap kanker kerongkongan.
  • Zat pewarna makanan.
  • Logam berat seperti merkuri yang sering terdapat pada makanan laut yang tercemar seperti: kerang, ikan, dsb.
  • Berbagai makanan (manis,tepung) yang diproses secara berlebihan.
  • Virus

Virus yang dapat dan dicurigai menyebabkan kanker antara lain :

  • Virus Papilloma menyebabkan kutil alat kelamin (genitalis) agaknya merupakan salah satu penyebab kanker leher rahim pada wanita.
  • Virus Sitomegalo menyebabkan Sarkoma Kaposi (kanker sistem pembuluh darah yang ditandai oleh lesi kulit berwarna merah)
  • Virus Hepatitis B dapat menyebabkan kanker hati.
  • Virus Epstein – Bar (di Afrika) menyebabkan Limfoma Burkitt, sedangkan di China virus ini menyebabkan kanker hidung dan tenggorokan. Ini terjadi karena faktor lingkungan dan genetik.
  • Virus Retro pada manusia misalnya virus HIV menyebabkan limfoma dan kanker darah lainnya.
  • Infeksi
    • Parasit Schistosoma (bilharzia) dapat menyebabkan kanker kandung kemih karena terjadinya iritasi menahun pada kandung kemih. Namun penyebab iritasi menahun lainnya tidak menyebabkan kanker.
    • Infeksi oleh Clonorchis yang menyebabkan kanker pankreas dan saluran empedu.
    • Helicobacter Pylori adalah suatu bakteri yang mungkin merupakan penyebab kanker lambung, dan diduga bakteri ini menyebabkan cedera dan peradangan lambung kronis sehingga terjadi peningkatan kecepatan siklus sel.
  • Faktor perilaku
    • Perilaku yang dimaksud adalah merokok dan mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung lemak dan daging yang diawetkan juga peminum minuman beralkohol.
    • Perilaku seksual yaitu melakukan hubungan intim diusia dini dan sering berganti ganti pasangan.
  • Gangguan keseimbangan hormonal

Hormon estrogen berfungsi merangsang pertumbuhan sel yang cenderung mendorong terjadinya kanker, sedangkan progesteron melindungi terjadinya pertumbuhan sel yang berlebihan. – Ada kecenderungan bahwa kelebihan hormon estrogen dan kekurangan progesteron menyebabkan meningkatnya risiko kanker payudara, kanker leher rahim, kanker rahim dan kanker prostat dan buah zakar pada pria.

  • Faktor kejiwaan, emosional

Stres yang berat dapat menyebabkan ganggguan keseimbangan seluler tubuh. Keadaan tegang yang terus menerus dapat mempengaruhi sel, dimana sel jadi hiperaktif dan berubah sifat menjadi ganas sehingga menyebabkan kanker.

  • Radikal bebas
    • Radikal bebas adalah suatu atom, gugus atom, atau molekul yang mempunyai electron bebas yang tidak berpasangan dilingkaran luarnya. Sumber – sumber radikal bebas yaitu :
  1. Radikal bebas terbentuk sebagai produk sampingan dari proses metabolisme.
  2. Radikal bebas masuk ke dalam tubuh dalam bentuk racun-racun kimiawi dari makanan , minuman, udara yang terpolusi, dan sinar ultraviolet dari matahari.
  3. Radikal bebas diproduksi secara berlebihan pada waktu kita makan berlebihan (berdampak pada proses metabolisme) atau bila kita dalam keadaan stress berlebihan, baik stress secara fisik, psikologis,maupun biologis.

3.3 Gejala-gejala yang Timbul

Kanker laring biasanya berasal dari pita suara, menyebabkan suara serak.
Seseorang yang mengalami serak selama lebih dari 2 minggu sebaik
nya segera memeriksakan diri.

Kanker bagian laring lainnya menyebabkan nyeri dan kesulitan menelan. Kadang sebuah benjolan di leher yang merupakan penyebaran kanker ke kelenjar getah bening, muncul terlebih dulu sebelum gejala lainnya timbul.

Gejala lainnya yang mungkin terjadi adalah:

  • nyeri tenggorokan.

  • nyeri leher.

  • Batuk

  • batuk darah.

  • bunyi pernafasan yang abnormal.

  • Serak yang menetap
  • Bengkak/benjolan ditenggorokan
  • Disfagia
  • Nyeri ketika bicara
  • Rasa terbakar di tenggorokan saat menelan cairan panas
  • Dyspnea, lemah
  • Berat Badan menurun
  • Pembesaran kelenjar limfe
  • Nafas bau

3.4 Tahap Pencegahan Penyakit

Pencegahan yang dapat dilakukan terhadap penyakit kanker laring (pita suara) cukup sederhana yaitu untuk para pengkonsumsi rokok dan alkohol cukup dengan cara mengurangi dan untuk yang tidak mengkonsumsi rokok dan alkohol hindari rokok dan alkohol.

  • Health Promotion

  • Pemberian makanan bergizi (sehat seimbang)

    Penyediaan sanitasi

  • Specific Protection

  • Imunisasi Spesifik

    Menghindari terhadap zat-zat alergen

  • Pemberian makanan khusus

    Perlindungan terhadap bahan-bahan yang bersifat karsinogenik

  • Early Diagnosis dan Promt Treatment

  • Upaya penemuan khusus

    Survey kesehatan

  • Minitoring dan survailans epidemologis

    Sreening survey

  • Pemeriksaan general chek-up

  • Disability Limitation

  • Pengobatan

    Pemberian multi vitamin

  • Rehabilitation

  • Fisioterapi

    Kemoterapi

  • Psikoterapi

    Sosial terapi

  • Rehabilitasi Asthetis

    Vocational terapi

3.5 Pengobatan

Pengobatan tergantung kepada lokasi kanker di dalam laring.
Kanker stadium awal diatasi dengan pembedahan atau terapi penyinaran. Jika menyerang pita suara, lebih sering dilakukan terapi penyinaran karena bisa mempertahankan suara yang normal. Kanker stadium lanjut biasanya diatasi dengan pembedahan, yang bisa meliputi pengangkatan seluruh bagian laring (
laringektomi total atau parsial), diikuti dengan terapi penyinaran.

Pengangkatan seluruh pita suara menyebabkan penderita tidak memiliki suara. Suara yang baru dibuat dengan salah satu dari cara berikut:

  1. Esophageal speech, penderita diajari untuk membawa udara ke dalam kerongkongan ketika bernafas dan secara perlahan menghembuskannya untuk menghasilkan suara.
  2. Fistula trakeoesofageal, merupakan katup satu arah yang dimasukkan diantara trakea dan kerongkongan. Katup ini mendorong udara ke dalam kerongkongan ketika penderita bernafas, sehingga menghasilkan suara. Jika katup mengalami kelainan fungsi, cairan dan makanan bisa secara tidak sengaja masuk ke dalam trakea.
  3. Elektrolaring adalah suatu alat yang bertindak sebagai sumber suara dan dipasang di leher.

Suara yang dihasilkan oleh ketiga cara tersebut dirubah menjadi percakapan dengan menggunakan mulut, hidung, gigi, lidah dan bibir. Suara yang dihasilkan lebih lemah dibandingkan suara normal.

Kanker pita suara yang kecil dapat diterapi dengan pembuangan transoral melalui laringoskop. Kanker yang terlalu besar untuk pendekatan ini tetapi belum cukup luas memfikasi pita suara, dapat diterapi dengan laringektomi parsial atau terapi radiasi. Terapi kanker yang cukup besar untuk memfikasi pita suara (kanker T3) masih controversial dan harus secara tersendiri sesuai dengan kasusnya.

Beberapa pusat medis mula-mula mencoba dengan radiasi dan melakukan laringektomi pada pasien yang gagal disembuhkan (lebih dari 60%). Hal ini berarti bahwa sebagian besar pasien terapi 2 kali, pembedahannya sulit dan penyembuhan luka berlangsung lambat, tetapi sebagian laring dapat diselamatkan. Tak pelak lagi, rencana dan kualitas terapi radiasi serta kualitas pemeriksaan ulang, pengalaman ahli bedah sangat mempengaruhi hasilnya. Para medis lainnya termasuk yang kami lakukan, melakukan laringektomi primer pada kanker laring T3, dengan modifikasi untuk mempertahankan fistula bicara trakeofaring, bila mungkin. Kemungkinan penyembuhan lebih tinggi, terapi ini lebih dapat ditoleransi pasien, jumlah pasien yang sama dapat mempertahankan suaranya, tetapi lebih banyak pasien yang memerlukan trakeostomi untuk penatalaksanaan.

Pada kedua sistem tersebut, pasien yang akhirnya menjalani laringektomi cocok untuk latihan bicara lagi, dengan memakai suara esophagus. Tanpa laring, pasien perlu bernafas melalui trakeostomi permanen, karena tidak ada lagi hubungan sfingter antara saluran pernapasan dan saluran makanan. Pada kasus kanker laring yang telah bermetastasis ke nodus limfatikus servikalis (atau terdapat risiko tinggi metastasis mikroskopis) dilakukan terapi tambahan. Biasanya berupa diseksi total nodusmlimfatikus di leher, bila mungkin dimodifikasi untuk melindungi nervus asesorius.

Dengan penanganan ahli, kurang dari 30% pasien kanker laring yang kehilangan laringnya, dan prognosis penyembuhan biasanya sangat baik.

Jenis Laringektomi :

  1. Laringektomi parsial (Laringektomi-Tirotomi)

Laringektomi parsial direkomendasikan kanker area glotis tahap dini ketika hanya satu pita suara yang terkena. Tindakan ini mempunyai mempunyai angka penyembuhan yang sangat tinggi. Dalam operasi ini satu pita suara diangkat dan semua struktur lainnya tetap utuh. Suara pasien kemungkinan akan menjadi parau. Jalan nafas akan tetap utuh dan pasien seharusnya tidak memiliki kesulitan menelan.

  1. Laringektomi supraglotis (horisontal)

Laringektomi supraglotis digunakan dalam penatalaksanaan tumor supraglotis. Tulang hioid, glotis, dan pita suara palsu diangkat. Pita suara, kartilago krikoid, dan trakea tetap utuh. Selama operasi, dilakukan diseksi leher radikal pada tempat yang sakit. Selang trakeostomi dipasang dalam trakea sampai jalan nafas glotis pulih. Selang trakeostomi ini biasanya diangkat setelah beberapa hari dan stoma dibiarkan menutup. Nutrisi diberikan melalui selang nasogastrik sampai terdapat penyembuhan dan tidak ada lagi bahaya aspirasi. Pasca operasi pasien akan mengalami kesulitan menelan selama 2 minggu pertama. Keuntungan utama operasi ini adalah bahwa suara akan kembali pulih dalam seperti biasa. Masalah utamanya adalah bahwa kanker tersebut akan kambuh.

  1. Laringektomi hemivertikal

Laringetomi hemivertikal dilakukan jika tumor meluas diluar pita suara, tetapi perluasan tersebut kurang dari 1 cm dan terbatas pada area subglotis. Dalam prosedur ini, kartilago tiroid laring dipisahkan dalam garis tengah leher dan bagian pita suara (satu pita suara sejati dan satu pita suara palsu) dengan pertumbuhan tumor diangkat. Kartilago aritenoid dan setengah kartilago tiroid diangkat. Kartilago aritenoid dan setengah kartilago tiroid diangkat. Pasien beresiko mengalami aspirasi pascaoperasi. Beberapa perubahan dapat terjadi pada kualitas suara (sakit tenggorok) dan proyeksi. Namun demikian jalan nafas dan fungsi menelan tetap utuh.

  1. Laringektomi total

Laringektomi total dilakukan ketika kanker meluas diluar pita suara. Lebih jauh ke tulang hioid, epiglotis, kartilago krikoid, dan dua atau tiga cincin trakea diangkat. Lidah, dinding faringeal, dan trakea ditinggalkan. Banyak ahli bedah yang menganjurkan dilakukannya diseksi leher pada sisi yang sama dengan lesi bahkan jika tidak teraba nodus limfe sekalipun. Rasional tindakan ini adalah bahwa metastasis ke nodus limfe servical sering terjadi. Masalahnya akan lebih rumit jika lesi mengenai struktur garis tengah atau kedua pita suara.

Dengan atau tanpa diseksi leher, laringektomi total dibutuhkan stoma trakeal permanen. Stoma ini mencegah aspirasi makanan dan cairan ke dalam saluran pernafasan bawah, karena laring yang memberikan perlindungan stingfer tidak ada lagi. Pasien tidak akan mempunyai suara lagi tetapi fungsi menelan akan normal. Laringektomi total mengubah cara dimana aliran udara digunakan untuk bernafas dan berbicara.

3.6 Diagnosis

Untuk menegakkan diagnosis dilakukan pemeriksan laringoskop dan biopsi. CT scan dan MRI kepala atau leher juga bisa menunjukkan adanya kanker laring.

Seperti pada kanker leher dan kepala lainnya, pemeriksaan foto rontgen atau laboratorium tidak menawarkan bantuan yang jelas dalam mendeteksi kanker dini. Sistem deteksi dini terefektif bagi kami terdiri dari kewaspadaan dokter umum yang memeriksa pasien serak dengan cermin laring.

Pemeriksaan diagnostik

  • Laryngoskopi
  • Biopsi
  • CT scan
  • Rongen dada
  • Pergerakan pita suara

Medikal managemen

  • Radiasi:  Jika hanya 1 pita suara yang terkena,  Suara normal,  Pre op untuk menurunkan ukuran tumor,  Perawatan tidak terlalu lama
  • Kemoterapi
  • Pembedahan:  Laser, Parsial/total laringektomi

Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul

  • Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d obstruksi jalan nafas: sekret berlebihan
  • Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri fisik
  • Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kegagalan mekanisme regulasi/pengaturan
  • Resiko infeksi dengan faktor resiko tidak adekuatnya pertahanan tubuh primer (kulit tidakutuh, trauma jaringan, penurunan kerja cilia)
  • Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan trakeostomi/barier fisik
  • Kurang perawatan diri makan, mandi, berpakaian dan toileting b.d kelemahan

3.7 Peran Keluarga dalam Pencegahan Penyakit

Peran keluarga dalam pencegahan penyakit sangatlah penting karena keluarga adalah orang kedua yang berperan penting setelah diri sendiri dalam pencegahan penyakit. Keluarga harus selalu memperhartikan setiap anggota keluarganya masing-masing dalam makanan yang baik dan tidak baik untuk dikonsumsi,

BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Kanker Laring adalah keganasan pada pita suara, kotak suara (laring) atau daerah lainnya di tenggorokan. Kanker laring lebih banyak ditemukan pada pria dan berhubungan dengan rokok serta pemakaian alkohol.

Gejala yang mungkin terjadi pada penyakit kanker laring adalah:

  • nyeri tenggorokan.

  • nyeri leher.

  • Batuk

  • batuk darah.

  • bunyi pernafasan yang abnormal.

  • Serak yang menetap
  • Bengkak/benjolan ditenggorokan
  • Disfagia
  • Nyeri ketika bicara
  • Rasa terbakar di tenggorokan saat menelan cairan panas
  • Dyspnea, lemah
  • Berat Badan menurun
  • Pembesaran kelenjar limfe
  • Nafas bau

Faktor yang dapat menimbulkan penyakit kanker :

  • Faktor keturunan
  • Faktor Lingkungan
  • Faktor Makanan yang mengandung bahan kimia.
  • Virus
  • Infeksi
  • Faktor perilaku
  • Gangguan keseimbangan hormonal
  • Faktor kejiwaan, emosional
  • Radikal bebas

4.2 Saran

  1. Seharusnya ada pengobatan khusus untuk para penderita kanker baik yang ringan maupun yang berat.
  2. Disediakannya alat yang lebih canggih untuk mendiagnosis penyakit kanker.
  3. Diadakan penyuluhan ke daerah-daerah tentang penyakit kanker.

DAFTAR PUSTAKA

Browder J. A., Mershon P. M.: Speech and language development: Physicians role. Postgrad. Med. 56: 151-157, 1974.

Desanto L. W., Lillie J. C., Devine K. D.: Surgical salvage after radiation for laryngeal cancer. Laryngoscope 86: 649-657, 1976.

Fink B. R.: The Human Larynx: A Functional Study. New York, Raven Press, 1975.

Friedberg S. A.: Methods of examining the larynx. Otol. Clin. N. Am. 3: 451-464, 1970

Lewy R. B.: Experience with vocal cord injections. Ann. Otol. Rhinol. Laryngol. 85: 440-558, 1976

Travis L.W., Hubels R. L., Newman M. H.: Tuberculosis of the larynx. Laryngoscope 86: 549-558, 1976

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: